Minggu, 08 Mei 2011

BUDAYA PATRIARKI VS PEREMPUAN


Menggugat Dominasi Patriarki Dalam Kehidupan Perempuan
( Revitalisasi Peran Perempuan )

Dewasa ini di berbagai belahan dunia, perempuan mulai bangkit mempertanyakan dan menggugat dominasi dan ketidakadilan yang terjadi dalam sistem patriarki. Perempuan selama ini memang telah mengalami subordinasi, represi dan marjinalisasi dalam sistem tersebut. Stigma tersebut sudah cukup lama terjadi,dalam buku The Status of Women in Mahabarata, prof. Indra menulis: Tidak ada makhluk yang lebih berdosa daripada perempuan. Perempuan itu menyalakan api, dia adalah sisi pisau yang sangat tajam. Efek dari paradigma desktiminatif tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap perempuan, tidak sedikit orang yang berasumsi bahkan meyakini bahwa perempuan adalah sumber malapetaka, kerusakan suatu bangsa dan kemerosotan moral. Mengikuti paradigma diatas perempuan mutlak tidak bisa berkiprah di dunia public apalagi menjadi seorang pemimpin.

Bentuk-bentuk klasik yang terus muncul saat ini adalah pandangan para kiai dan tokoh masyarakat yang menganggap bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin. Kiai sebgai tokoh berpengaruh mempunyai masa yang tidak sedikit, pemikiran itu terus tersebar dan berlangsung terus-menerus, turun-menurun dan menjadi fatwa yang ampuh untuk membatasi peran- peran perempuan di lingkungan publik. Tetapi sesungguhnya, islam sama sekali tidak membedakan jenis kelamin manusia dalam artian perbedaan baik dan buruknya antra jenis kelamin tersebut.Yang membedakan antara laki-laki dan perempuan disamping jenis kelamit secara kodrati (sex) juga kualitas dan derajat ketakwaan kepada Allah. Jadi baik laki-laki maupun perempuan mempunyai potensi yang sama dan sejajar. Disinilah letak keadilan Allah SWT tidak membedakan makhluk yang satu dengan makhluk yang lain.

Ditemukannya sebuah contoh bentuk apresiasi terhadap perempuan, Allah juga memberikan ketentuan-ketentuan dan kategori- kategori perempuan ideal. Disebutkan pula dalam Al-Qur’an : telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ( ke jalan yang benar ),(Qs.Ar.Rum 30:41). Ayat tersebut mengindikasikan pada pencerahan tentang paradigma buruk perempuan sebagai sumber malapetaka. Juga sangat jelas dan tegas bahwa semua bencana yang ada di bumi ini bukan akibat dari salah satu jenis kelamin saja( perempuan), melainkan akibat dari tangan-tangan manusia yang dholim secara umum.
Dari beberapa studi kasus yang ada serta diimbangi dengan pemahaman tentang paradigma perempuan, ditemukan titik temu yaitu kita jangan terus-menerus memarginalkan kaum perempuan,yang kita harapkan sekarang menanti peran perempuan dalm segi apapun yang senantiasa tetap pada koridor-koridor syariat islam. Ketika kita berbicara tentang peran perempuan, berarti kita berbicara tentang harapan dan penantian orang lain terhadap perempuan. Dengan kata lain berbicara tentang apa yang dapat dilakukan perempuan dengan status dan kedudukannya sebagaai perempuan. Secara umum peran perempuan (Women’s Role) dapat diklarifikasikan kedalam dua kelompok peran yang dimainkan secara langsung (Straight Role) dan peran tidak langsung (No Sraight Role).Namun kenyataannya Peranan perempuan dalam kiprahnya masih terbentur pada budaya patriarki yang sudah mengakar di kalangan masyarakat. Budaya ini dapat menghambat aktivitas perempuan dalam melakukan segala hal yang berhubungan dengan publik.
Budaya patriarki telah menenggelamkan kaum perempuan tidak hanya dalam wilayah domestik, tetapi juga telah memasung kaum perempuan dengan menempatkan posisi politik, ekonomi, sosial, dan budaya kaum perempuan. Perempuan juga tidak punya peranan dalam dunia manapun. Maka dari itu Diperlukan sebuah manifestasi nyata untuk menuju perubahan agar perempuan mempunyai peran di ranah publik serta menghilangkan budaya patriarki yang sudah dialami oleh semua perempuan dari kelas manapun. Menilik dari historis tentang peran perempuan dapat ditarik benang merah bahwa perempuan mempunyai benyak pengaruh yang signifikan dalam perjuangan islam dimasa Rasulullah, hal ini membuktikan perempuan mempunyai citra yng mumpuni pada perannya didalam kedudukannya sebagai seorang perempuan.
Budaya-budaya patriarki yang sudah mengakar karena kekhilafan paradigma terhadap peran perempuan seharusnya perlu diluruskan kembali. Revitalisasi peran perempuan layak dihormati dan direalisasikan dalam manifestasi nyata agar tidak ada lagi stigma yang berkembang di masyarakat. Perwujudan tersebut seharusnya bahkan wajib diamini oleh kaum perempuan untuk mendapatkan kembali jati diri mereka yang selama ini tenggelam oleh maraknya pandangan positif tentang budaya patriarki. Sudah saatnya laki-laki bisa disejajarkan dengan kaum perempuan dengan selalu berpegangan terhadap koridor-koridor syariat yang sudah menjadi kodrat. Dan tidak lupa Potensi diri memang menjadi modal utama dalam merintis kembali feminisme untuk menjaga suatu persaingan yang sehat, moral yang sesuai dengan batasan merupakan filter untuk megiringi jalannya menju perubahan.
Revitalisasi peran perempuan dipandang perlu adanya mengingat banyaknya sikap deskriminaf  yang sudah menjalar kemana-mana tanpa kontrol sehingga kaum perempuanlah yang menjadi korban keganasan stigma tersebut. Pejuang-pejuang feminisme maupun kesetaran gender lah yang menjadi pioner atas perubahan paradigma, kesadaran yang dialami kaum perempuan dewasa ini merupakan hal yang harus diperhatikan semaksimal mungkin agar bisa menekan problema klasik tentang pemberdayaan perempuan.
Bangkitlah kaum Feminim..! tunjukkan potensimu yang sebenarnya tanamkan jati diri luhur yang selama ini sempat tenggelam oleh ganasnya budaya patriarki.berpegang teguhlah pada komitmen diri. Dan ingatlah bahwa Engkau (perempuan) adalah Cerminan Tuhan.


1 komentar:

  1. Casino Online - Oyster Hotel Reviews
    We 우리계열 have been a loyal player since 마이크로바카라조작 December 10, 2012. We've 슈어벳먹튀 thoroughly 올인구조대 reviewed hundreds 에볼루션 바카라 of top-quality slot machines, games, and more!

    BalasHapus